ONLINE PUBLIC ACCESS CATALOG

DETAIL KOLEKSI
 

Klik untuk membesarkan
DAMPAK PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH AKIBAT BANJIR LAHAR DINGIN TERHADAP KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT DI KECAMATAN SALAM KABUPATEN MAGELANG
Pengarang: Sofyan Souri
Penerbit: BPN RI STPN
Tempat Terbit: Jogjakarta
Tahun Terbit: 2014
Bahasa: Indonesia
ISBN/ISSN: -
Kolasi: -
Subjek: -
Jenis Bahan: Skripsi
Abstrak:
Letusan Merapi pada tanggal 26 Oktober 2010 menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 4 km dan disertai keluarnya awan panas ke berbagai arah di kaki Merapi. Peristiwa itu juga masih menyisakan tumpukan 70 juta m3 pasir, batu dan endapan awan panas yang merupakan materi lahar.

Banjir lahar yang terjadi pada saat terjadi hujan di hulu menyebabkan perubahan penggunaan tanah pada kawasan rawan bencana. Banyaknya bencana alam yang terjadi mendorong semakin pentingnya peran pengurangan resiko bencana. Tujuan dari penelitian ini yaitu: (1) Mengetahui perubahan penggunaan tanah di kawasan aliran lahar dingin Merapi pasca erupsi tahun 2010, (2) Mengetahui Kesesuaian penggunaan dengan tata ruang wilayah, (3) Mengetahui dampak perubahan penggunaan tanah terhadap kondisi kehidupan masyarakat.

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilaksanakan di kawasan rawan bencana kecamatan Salam yang telah mengalami perubahan penggunaan tanah akibat banjir lahar dingin Merapi. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan arcGis 10 untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan tanah pasca banjir lahar dingin di Kecamatan Salam dengan menggunakan citra pada saat sebelum dan sesudah banjir lahar dingin.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan penggunaan tanah pada kawasan rawan bencana Kecamatan Salam seluas 216,94 ha. Penggunaan tanah yang mengalami perubahan terbesar adalah sawah irigasi seluas 91,21 ha atau 42,04% dari luas penggunaan tanah pada KRB kecamatan Salam. Penggunaan tanah yang tidak sesuai dengan kawasan rawan bencana kecamatan Salam seluas 141,95 ha atau 33,91% dan yang sesuai seluas 325,34 ha atau 66,09%. Penggunaan tanah yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang seluas 74,53 ha atau 19,54% dan yang sesuai seluas 392,76 ha atau 80,46% dari luas rencana tata ruang pada kawasan rawan bencana. Bencana lahar dingin berdampak negatif karena merusak kondisi aset baik fisik, sumberdaya alam, ekonomi, dan sosial.

Sebagian masyarakat kehilangan aktivitas pekerjaan, terutama aktivitas pertanian karena tanah tertimbun pasir dan mengalami kekeringan setelah banjir lahar dingin. Dengan memanfaatkan keterampilan dan modal yang terbatas masyarakat mulai melakukan aktivitas non pertanian. Saran dari studi ini adalah 1) Dengan terjadinya perubahan penggunaan tanah pada KRB Kecamatan Salam perlu dilakukan upaya yang intensif untuk mengembalikan fungsi tanah khususnya tanah pertanian. 2) Perlu dilakukan revisi terhadap RUTRK yang mengacu pada undang-undang No. 24 tahun 2007. 3) Penanganan korban pasca bencana tidak hanya diberi bantuan berupa barang-barang yang dibutuhkan, tetapi lebih baik disertai bantuan secara non fisik berupa berbagai pambekalan keterampilan dengan berbagai pelatihan dan memberikan jaringan pemasaran serta pendampingan sehingga masyarakat dapat memulihkan kembali kehidupan, terutama dalam perekonomian.
Pratinjau Google: Tidak ada
Lampiran:
Lihat konten
 
KETERSEDIAAN
 
Lokasi: Ruang Baca
Nomor Rak:
Nomor Panggil:
Eksemplar: 7
No. Kode Status
1. 90p1546 Tersedia
2. 90p1549 Tersedia
3. 90p1550 Tersedia
4. 90p1545 Tersedia
5. 90p1547 Tersedia
6. 90p1548 Tersedia
7. 90p1558 Tersedia